Langsung ke konten utama

Perkembangan Politik Korea Selatan


Ketika Jepang mengalami kekalahan di Perang Dunia II, ia melepaskan kekuasaannya di banyak negara di Asia dan salah satunya adalah Korea. Hal ini menimbulkan pemisahan dua Korea yang dikenal dengan istilah Korean Peninsula di paralel 38 dengan pembentukan Republic of Korea pada 15 Agustus 1945 yang dipimpin oleh presiden Syngman Rhee, dan Democratic People's Republic of Korea yang terbentuk pada tanggal 9 September 1945 dibawah pimpinan Kim Il Sung.
US dan USSR kemudian terlibat dalam Perang Dingin, dimana mereka berusaha untuk menyebarkan ideologi dan menjatuhkan autoritasnya pada berbagai kawasan dunia. Proxy-war yang menjadi trademark Perang Dingin kemudian terjadi pada kedua negara baru tersebut. US menaruh autoritasnya pada Republic of Korea atau Korea Selatan, sementara USSR pada Korea Utara (CIA World Factbook, 2014). Hal ini kemudian sangat berpengaruh terhadap perkembangan kedua negara hingga saat ini, baik secara domestik (politik dan ekonomi) maupun dalam isu perang-damai keduanya.
Korea Selatan memiliki bentuk negara Republik dengan pembagian kekuatan dalam 3 kamar yakni Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Lembaga Eksekutif Korea Selatan dipimpin oleh Presiden sebagai kepala negara dan Perdana Menteri sebagai pemimpin pemerintahan. Walaupun demikian, Presiden memiliki autoritas yang lebih besar dalam penetapan keputusan kenegaraan, domestik maupun hubungan luar negeri. Presiden memiliki masa menjabat selama 5 tahun. Pemilihan umum Korea Selatan menggunakan sistem popular vote dan terakhir kali diselenggarakan pada Desember 2012 dengan Presiden Park Geun Hye sebagai pemenang.
Dalam kamar Legislatif, Korea Selatan memiliki Unicameral National Assembly atau Gukhoe yang dipilih setiap 4 tahun sekali dan terakhir diselenggarakan pada 11 April 2012. Assembly ini memiliki 299 seats dan diisi oleh perwakilan dari beberapa partai politik. Sementara dalam lembaga Yudikatif, Korea Selatan memiliki Supreme Court dan Pengadilan Banding Constitutional Court. Korea Selatan sendiri memiliki banyak partai politik, menurut Komisi Pemilu Korsel, partai politik yang terdaftar pada tahun 2012 sebanyak 8 partai. Namun hanya dua partai besar yang mendominasi hasil pemilu yaitu partai berkuasa Saenuri dan Democratic United Party.
Perpolitikan Korea Selatan sendiri tidak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan Korea Utara. Perang Korea yang berakhir oleh gencatan senjata tahun 1953 hingga saat ini belum memiliki perjanjian perdamaian. Dengan demikian, secara teknis kedua Korea masih dalam kondisi berperang. Sehubungan dengan kondisi ini, kedua Korea terus meningkatkan kekuatan militernya baik dari persenjataan maupun personel tempur. Kedua Korea menerapkan wajib militer bagi seluruh warganya, namun di Korsel hanya untuk warga negara pria yang berumur 20 tahun.
Agresi militer Korea Utara pada Korea Selatan pada 25 Juni 1950 merupaka awal dari perang Korea. Agresi ini memakan waktu 3 hari dan Korea Utara berhasil merebut Seoul dan mendesak pasukan Korea Selatan mundur ke daerah Selatan negara tersebut. Amerika Serikat kemudian meminta UN Security Council untuk mengintervensi perang tersebut dengan ketakutan akan penyebaran ideologi Korea Utara ke Korea Selatan.
Dibawah Jendral Douglas MacArthur, UN Security Forces memasuki peperangan pada 15 September 1950 dan berhasil memukul mundur Korea Utara hingga memasuki wilayah Korut. China kemudian ikut kedalam peperangan dengan mengirim bantuan kepada pasukan Korea Utara hingga cease fire agreement ditandatangani oleh Korea Utara dan Selatan pada 27 Juli 1953. Bantuan US dalam Perang ini membuat hubungan US dan Korea Selatan berkembang dalam Mutual Defense Treaty di tahun 1953 yang menjelaskan bahwa US akan membantu Korsel dalam menghadapi segala agresi asing.
Selama lebih dari 2 dekade, Korea Utara dan Selatan tidak berhubungan sama sekali hingga upaya reunifikasi dan rekonsiliasi dimulai pada tahun 1971. Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada tahun 2007 pernah mengeluarkan kebijakan Sunshine Policy demi memperbaiki hubungan dengan Korea Utara yang mengantarkan Dae-Jung menjadi salah satu penerima nobel perdamaian. Hubungan kedua negara sempat membaik karena hubungan ekonomi, namun kembali memburuk setelah Korea Utara menyerang pulau Yeonpyeong di tahun 2010 dan menembak mati 2 wisatawan Korea Selatan dalam proyek bersama Korea Utara dan Selatan, Kaesong Industrial Complex .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makanan Khas Korea

Di dunia ini sungguh banyak jenis dan macam makanan yang enak di setiap negara, tentu hal ini akan membuat kita banyak sekali pilihan kuliner sesuai dengan keingin kita. Hal ini sudah pasti karena setiap masakan yang ada di dunia ini mempunyai cita rasa yang khas di setiap wilayah, biasanya hal ini di karenakan bumbu rempah yang di gunakan dalam setiap negara berbeda yang tentu mempunyai cita rasa tersendiri. Salah satu negara penghasil makanan atau masakan lezat adalah Negara Korea yang tentu kebudayaannya dan juga beberapa makanannya sudah tidak asing lagi bagi kita. Hal ini di karenakan beberapa tahun belakangan ini sangat banyak hiburan yang berasal dari Negara Korea menyerbu Indonesia, tentu secara tidak langsung makanan khas korea paling enak dan populer secara tidak langsung dapat di kenal pencinta K-Drama. berikut ini adalah daftar makanan khas korea paling enak yang wajib untuk anda coba. 1. Sannakji          Makanan khas korea yang akan kita b...

Agama Korea Selatan

agama yang tumbuh di Korea Selatan pada umumnya tidak dominan terhadap satu agama, tidak seperti halnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya menganut agama islam. Budaya Korea mencakup berbagai elemen agama yang beranekaragam dan siapapun berhak memilih agama berdasarkan keyakinannya tanpa ada paksaan. Berdasarkan sejarah agama yang berkembang di Korea sebelumnya, Korea tumbuh dengan pengaruh agama Shamanisme, Buddhisme, Taoisme atau Konfusianisme. Namun di era moderen saat ini ada beberapa agama seperti Islam dan Kristen menambah keberagamanagama di Korea.  berikut ini beberapa agama yang berkembang di Korea Selatan. Agama Budha Agama Budha diperkenalkan di Korea sejak tahun 372 selama periode Kerajaan Goguryeo oleh seorang biarawan bernama Sundo yang berasal dari Dinasti Qin Qian di Cina. Budha adalah salah satu agama filosofis yang sangat disiplin dan menekankan keselamatan pribadi melalui siklus reinkarnasi. Keberadaan agama budha di Korea tampaknya tela...

Korea Selatan

Nama resmi : Republik Korea Kepala Negara : Presiden Park Geun Hye Luas wilayah : 100.460 km2 Populasi : 50,2 juta (2014) Ibu kota : Seoul (penduduk 10,14 juta, 2014) Bahasa resmi : Han gul Letak Astronomis Korea     33˚06’40” LU sampai 43˚00’39” LU     124˚11’00” BT sampai 131˚52’42” BT Letak Geografis di bagian Timur Laut benua Asia     Batas-Batas Negara     Utara > RRC     Selatan > Laut Cina Timur     Barat  > Laut Kuning     Timur  > Laut Jepang Korea yang terdiri dari semenanjung serta 3200 buah pulau yang besar dan kecil, terletak di bagian timur laut dari benua Asia. Korea terletak bersebelahan dengan wilayah laut, Rusia dan Cina dari arah ke utara, serta berhadapan dengan Jepang dari arah selatan.